« February 2007 | Main | April 2007 »

Journey of Being Mom (II)

Img_0079 Memiliki anak di usia sekolah adalah susah-susah gampang, kita sebagai orang tua harus bisa menyikapinya dan terpenting adalah menjadi contoh yang baik bagi anak kita, karena what they are is what you show to them, dan saya juga diajarkan bahwa pada usia tersebut konsep berpikir anak masih 2 (dua) dimensi, kalau A maka B…

Ceritanya saya sangat takut kucing, mungkin sahabat-sahabat terdekat saya tahu, bagaimana takutnya saya dengan kucing. Ketika duduk di bangku SMP, saya hampir pingsan karena teman-teman saya (tiba-tiba) menyodorkan kucing ke bahu saya, saya langsung lari keluar kelas, dan pintu kelas dihalangi teman-teman saya, langsung saya dobrak dan saya pun terjerembab jatuh sampai pusing banget….

Waktu kuliah kasus saya ini sampai dijadikan pembahasan mata kuliah psikoanalisis oleh Bang Leo, ah entah mengapa saya memang takut sekali dengan kucing…

Nah, berbanding terbalik dengan anak-anak saya, tentunya semua anak-anak tidak takut kucing, jadi kalo pada hari libur saya bermain-main dengan anak-anak saya, suka ada kucing yang ngikutin…aduh membuat saya senewen deh….

Popop bilang, kamu jangan takut dong nanti anak-anak jadi takut, ok deh…saya berusaha untuk tegar (walaupun…aduh nggak deh…)

Iseng saya tanya Lala: La, lala suka kasih makan kucingnya ya…, dengan polos lala menjawab: Iya, Kasih makan apa La? Lala: wotel…

Kemudian kucing itu tiba-tiba menyelinap diantara kedua kaki saya, kontan saya menjerit dan melompat, aduh La…mimi takut,

Terus Lala bilang: lala tendang aja ya Mi..?dan saya bilang: jangan La, (maksud saya takut kalo Lala malah dicakar)

Lala: oh, lala sayang aja ya Mi… ? saya: aduh, jangan La…(maksud saya takut kucingnya malah tambah betah main di sekitar rumah)

Terus Lala memandang saya: Hahhh, mimi, tendang nggak boleh sayang nggak boleh, jadi Lala harus apa dong Mi….

(Oh... my apology my dear princess, harusnya saya menentukan sikap yang jelas ya La…?) tapi yang jelas mimi takut kucing, sayang....

Journey of Being a Mom

Img_0082 Memiliki anak yang semakin hari semakin bertambah usianya, membuat saya membuka kembali ingatan saya mengenai psikologi perkembangan yang diajarkan oleh Bu Yuke (Elizabeth Hurlock) tahapan perkembangan anak tepatnya.., bagaimana pada usia-usia seusia anak saya sekarang ada istilahnya IMAGINARY FRIEND (ehm…)

Ceritanya princess DD, tiba-tiba di suatu sore mengetuk-ngetuk pintu kamar dan memanggil-manggil: Seena-Seena…(nada suara kayak manggil-manggil temen gitu loh)

Oh, rupanya Seena itu adalah imaginary friend DD yang hadir kalo saya sedang tidak ada di rumah, nanti dia laporan kalo Seena itu tadi siang main ke rumah, main-main sama DD dan sekarang udah pulang. Selidik punya selidik ternyata nama Seena diadaptasi dd dari lagunya Bunga Cinta Lestari yang judulnya Sunny (cinta pertama), hahaha, ini memang lagu favoritnya DD dan dia bisa langsung terbangun dari tidur lelapnya kalo denger lagu ini

Semakin menguatkan teori mengenai imaginary friend, bahwa sebenarnya imaginary friend adalah keinginan anak terhadap hal-hal yang tidak bisa diperoleh di dunia nyata, atau ada gap antara keinginan dan kenyataan, suatu malam DD cerita: Mi, kalo Seena pergi beli permen sama Mama-nya Seena, kalo DD beli permen sama Mbak deh (gubrak…., maap ya Dee…, on the next twenty years you will clearly understand how the world works to you and to us) 

menikah..

buat saya menikah adalah sesuatu yang sakral, dan saya suka bingung sama pasangan-pasangan yang memutuskan untuk bercerai, mengapa ya mereka tidak mengingat masa persiapan pernikahan mereka, dan mengapa ya mereka tidak mengingat bahwa ketika ijab diucapkan semua orang di masjid menahan napas, sampai dikatakan sah, dan layak koor semua berucap: "alhamdulillah"

padahal kita sama-sama mengetahui jika pasangan hidup kita adalah bukan yang terbaik , dan pastinya no body is perfect, ya nggak sih....? Berbicara mengenai pernikahan dan dengan siapa saya menikah, saya termasuk golongan orang yang menemukan pasangan in common way lah, yah general rules-nya memang begitu..., kita pacaran dan setelah 3.5 tahun pacaran kamipun menikah..., dan sejak pertemuan awal memang diset menjadi pacar, bukan tipe temenan dulu terus pacaran, atau tipe-tipe unik lain...

berbicara keunikan pasangan, ada beberapa temen saya yang menjadi suami istri sempat membuat saya terGUBRAK-GUBRAK, asli deh, sambil bertanya kok bisa yaaaa....., tapi itu mungkin rahasia Tuhan ya mengenai jodoh atau mengenai pasangan hidup.

Pasangan pertama adalah teman SMA saya yang mengumumkan pernikahannya melalui sms, dan coincidently menikah dengan teman kuliah adik saya, dan pertemuan intens mereka mungkin dimulai dengan sunatan (hehehe, sorry ya temans kuliput kisahmu). Sumpah deh, membaca sms berita perniakahan membuat saya GEDUBRAK, yang langsung saya fwd ke adik saya, dan dia pun terkaget-kaget. We know both of them well, anyway pernikahan mereka sudah berlangsung...

Satu kabar lagi, yang kebetulan kali ini saya terima dari adik saya duluan, mengenai rencana pernikahan teman saya dan teman adik saya juga (again...??). Pssttt, tapi menurut permintaan calon mempelai mah nggak boleh dipublish dulu. Aduh ini mah lebih dari tergubrak deh, pingsan kali gue, seems it's hard to belive but indeed it's so truuuuuuuuuuueeeeeeeeeee (buat calon pengantin: cant wait to see the wedding yeuh). We know both of them very well, much more than the word WELL deh kayaknya. Yang jelas mereka sudah menentukan tanggal dan telah memiliki ketetapan hati, happy for both of you ya...

yah, tuhan memang memiliki rahasia sendiri untuk umatnya, terutama masalah jodoh ya, jadi buat teman-temanku yang single, siapa tahu jodoh kalian adalah yang didepan mata kalian (hehehehe)